Abstrak
Welmina Sallang, 2026. Profil Guru Misionaris dan Non Misionaris Non-PNS Di Lingkup YAPENKRIS Pingdoling Alor. Program Studi Pendidikan Teologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Tribuana Kalabahi. Pembimbing I: Dr. Fredrik Abia Kande, M.Pd, Pembimbing II: Adolfina Oualeng, M.Th.PAK. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan kondisi antara guru misionaris dan guru Non misionaris Non-PNS di sekolah-sekolah dalam lingkup Pingdoling Alor, terutama dari segi status kepegawaian beban tugas, penyiapan perangkat pembelajaran, kesejahteraan, dan budaya positif di sekolah. Keberadaan guru misionaris menjadi bagian penting dalam pelayanan pendidikan Kristen karena tidak hanya menjalankan tugas mengajar tetapi juga pelayanan iman di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil guru misionaris dan Non misionaris Non-PNS di lingkup YAPENKRIS Pingdoling Alor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif dengan langkah-langkah yakni: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.“Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru misionaris dan guru Non misionaris Non-PNS tergambarkan dalam beberapa aspek. Dari segi status kepegawaian, seluruh guru berada di bawah pengelolaan Yayasan dengan status Non-PNS dengan guru misionaris status kontrak sedangkan guru Non misionaris Non-PNS belum berstatus kontrak/ komite. Dari segi beban tugas, guru misionaris tidak hanya melaksanakan tugas mengajar tetapi juga terlibat dalam pelayanan dan pembinaan rohani di sekolah. Dalam penyiapan perangkat pembelajaran, sebagian besar guru misionaris dan Non-misionaris Non-PNS telah menyiapkan modul ajar, bahan ajar, dan instrumen penilaian. Perangkat pembelajaran ini disiapkan sesuai mata pelajaran yang diampu dan kelas yang diasuh masing-masing guru. Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan perangkat pembelajaran, antara lain keterbatasan waktu dan fasilitas pendukung, yang mempengaruhi efektivitas penyusunan dan penggunaan perangkat ajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru telah berupaya menyiapkan materi pembelajaran sesuai tanggung jawabnya di sekolah masing-masing. Dari segi kesejahteraan, guru misionaris masih menghadapi keterbatasan penghasilan dan fasilitas pendukung dalam menjalankan tugas pelayanan dan pendidikan. Demikian pula, guru non misionaris non-PNS juga mengalami keterbatasan kesejahteraan, terutama dalam hal penghasilan yang belum memadai, belum adanya jaminan kerja yang tetap, serta minimnya fasilitas penunjang pembelajaran. Kondisi ini mempengaruhi motivasi dan keberlangsungan tugas mereka dalam mendukung proses pendidikan di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa guru misionaris dan guru Non misionaris Non-PNS memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan Kristen di lingkungan YAPENKRIS oleh karena itu, diperlukan perhatian dan dukungan dari Yayasan serta sekolah untuk meningkatkan status kesejahteraan dan profesionalitas guru demi terciptanya kualitas pendidikan yang lebih baik. Kata Kunci: profil guru misionaris, guru Non-PNS, budaya positif .